Lanjutan dari tulisan pendek aku mengenai sikap marah dan "The Muhibbain".
Bekas vokalis kugiran punkrock Black Flag, Henry Rollins, di dalam satu temu ramah pernah mengekpressikan kemarahannya yang membuak buak terhadap pemerintahnya sendiri,kerajaan Amerika yang punya peranan penting membakar hangus Syria sehingga saat ini.
Soalnya mengapa Rollins begitu marah?
a - Adakah perang dan kekacauan yang didalangi Amerika memberi impak kepada periuk nasik Rollins?
b - Atau kerana Rollins marah Amerika pada tahun 2011 telah membelanjakan US Dollar 711 billion (pada asasnya duit itu datang dari pembayar cukai) untuk tujuan pembelian senjata / militari seperti yang dilaporkan oleh Stockholm International Peace Research Institute ?
c - Adakah ianya kerana isu kemanusiaan, bersangkut paut dengan pendirian dan iman Rollins itu sendiri?
Jenny Diski, penulis buku "The Sixties", pada halaman 39, mencatatkan,
"Fear, hunger deprivation, the opression by the strong of the weak. Nothing had changed, for all that we were told how a generation had sacrificed its youth in order to make a decent world for us. And even if that were true, how could a generation sit back with a sense of job well doen when terrible things were happening to people all over the planet?
In any case, it is not a job of the young to be grateful, it is their job to tear up the world and start again."
Ketika minit minit yang berjalan di setiap pelosok dunia, kerosakkan, kemusnahan sudah berlaku. Tidak ada satupun daerah yang tidak terpalit dengan kecelakaan.
Dari maruah seorang wanita diperdagangkan untuk kelangsungan kapital, perang dicalit sentimen relijius kerana niat merebut sumber ekonomi, isu pembebasan orang asal - tanah adat, hutan tempat tinggal yang dirampas pemodal, bangsa Papua yang bernyanyi suara kemerdekaan dari cengkaman negara bangsa kapitalis dan imperialis ekonomi, bank-bank memperhambakan kelas masyarakat dengan produk-produk "mesra hutang sampai mampus", bukit-gunung ganang, sungai dihapuskan untuk didirikan dinding-dinding buat kelas elit - apalagi yang masih membuatkan tidur kamu enak?
Dalam konteks Malaysia, semua orang tahu cerita skandal 1MDB, semua orang tahu isu ketirisan, rasuah, birokrasi, semua orang sedar yang kaya tetap kaya, yang disinggahsana tetap enjoy memerintah, yang berserban lupakan kelas masyarakat kerana katanya mengejar akhirat dan semua orang pasti menyedari undang-undang berpihak kepada elitis
Tetapi di mana hala tuju, aksi kita tuan-tuan?
Walaupun Marx tidak pernah menjenamakan pemikirannya (sebahagian besar pengkaji berpendapat Engels lah yang menamakan pemikiran sahabat baiknya itu) , namun teori "historical Materialism" tidak boleh dipandang remeh.
Teori inilah tuan-tuan mungkin mencerahkan mengapa kita sedang berdiri dalam keadaan sekarang.
"konsepsi materialis tentang sejarah dimulai dari proposisi tentang produksi yakni alat-alat yang menopang kehidupan manusia dan produksi sesudahnya iaitu pertukaran barang yang diproduksi merupakan dasar dari seluruh struktur sosial ; dasar kemunculan sejarah dalam masyrakat terbagi dalam kelas-kelas, dasar di mana organisasi terbegantung pada yang diproduksi, bagaiman barang itu diproduksi dan ditukarkan.
Menurut cara pandang inipenyebab akhir dari seluruh perubahan sosial dan revousi politik tidak terletak pada otak manusia, bukan juga pada pengamatan yang jernih atas kebenaran dan keadilan abadi, tetapi dalam corak perubahan produksi dan pertukaran.
bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tapi keberadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya " - dipetik dari kata pengantar Coen Husain Pontoh.
Oh, mungkin inilah sebabnya kita taksub mengikuti sistem, mentaati majikan kapital dan berkiblatkan materialisme, kerana itulah sebenarnya dunia yang kita hunikan sekarang.
Padanlah kita tak peduli pun apa yang dah terjadi, kita lebih pentingkan jenama tudung yang kita pakai, skim insurans/simpanan di hari tua kerana takutkan masa depan yang dipegang kapital di akhirnya hidup yang terlalu sibuk ini ini kita hiburkan dengan hiburan Gegar Vaganza dan juga menikmati peha dan pinggul Kim Kardhasian di kaca tv.
Ya, tulisan kali ni berat, panjang dan paling penting - hari ni kan hari Sabtu?
Nanti adalah yang merungut " kamon brader, chill lah hari ni kan kita cuti, kita letak sebelah dulu cerita ni " atau " hang ni semua benda nak marah" atau "alah, kita cerita hal nak beraya kat mana hari ni, boleh tak ?"
Tak apalah. Aku tahu bagi kamu semua ini kan takdir tuhan.
Jadi tak mengapalah kalau nak panggil kamu mat/minah takdir.
Aku nak sambung dengar lagu Papua Tanah Perjanjian,
"Tibalah waktunya, aku bersuara/
Untuk saudaraku, suara pembebasan/
Tangisan kan berakhir, harapan kan terbit/
Seperti pelangi, di kaki bukit/
Matahari timur/
Milik kita saudaraku"
-Ras Muhammad, Gled Fredly
Bekas vokalis kugiran punkrock Black Flag, Henry Rollins, di dalam satu temu ramah pernah mengekpressikan kemarahannya yang membuak buak terhadap pemerintahnya sendiri,kerajaan Amerika yang punya peranan penting membakar hangus Syria sehingga saat ini.
Soalnya mengapa Rollins begitu marah?
a - Adakah perang dan kekacauan yang didalangi Amerika memberi impak kepada periuk nasik Rollins?
b - Atau kerana Rollins marah Amerika pada tahun 2011 telah membelanjakan US Dollar 711 billion (pada asasnya duit itu datang dari pembayar cukai) untuk tujuan pembelian senjata / militari seperti yang dilaporkan oleh Stockholm International Peace Research Institute ?
c - Adakah ianya kerana isu kemanusiaan, bersangkut paut dengan pendirian dan iman Rollins itu sendiri?
Jenny Diski, penulis buku "The Sixties", pada halaman 39, mencatatkan,
"Fear, hunger deprivation, the opression by the strong of the weak. Nothing had changed, for all that we were told how a generation had sacrificed its youth in order to make a decent world for us. And even if that were true, how could a generation sit back with a sense of job well doen when terrible things were happening to people all over the planet?
In any case, it is not a job of the young to be grateful, it is their job to tear up the world and start again."
Ketika minit minit yang berjalan di setiap pelosok dunia, kerosakkan, kemusnahan sudah berlaku. Tidak ada satupun daerah yang tidak terpalit dengan kecelakaan.
Dari maruah seorang wanita diperdagangkan untuk kelangsungan kapital, perang dicalit sentimen relijius kerana niat merebut sumber ekonomi, isu pembebasan orang asal - tanah adat, hutan tempat tinggal yang dirampas pemodal, bangsa Papua yang bernyanyi suara kemerdekaan dari cengkaman negara bangsa kapitalis dan imperialis ekonomi, bank-bank memperhambakan kelas masyarakat dengan produk-produk "mesra hutang sampai mampus", bukit-gunung ganang, sungai dihapuskan untuk didirikan dinding-dinding buat kelas elit - apalagi yang masih membuatkan tidur kamu enak?
Dalam konteks Malaysia, semua orang tahu cerita skandal 1MDB, semua orang tahu isu ketirisan, rasuah, birokrasi, semua orang sedar yang kaya tetap kaya, yang disinggahsana tetap enjoy memerintah, yang berserban lupakan kelas masyarakat kerana katanya mengejar akhirat dan semua orang pasti menyedari undang-undang berpihak kepada elitis
Tetapi di mana hala tuju, aksi kita tuan-tuan?
Walaupun Marx tidak pernah menjenamakan pemikirannya (sebahagian besar pengkaji berpendapat Engels lah yang menamakan pemikiran sahabat baiknya itu) , namun teori "historical Materialism" tidak boleh dipandang remeh.
Teori inilah tuan-tuan mungkin mencerahkan mengapa kita sedang berdiri dalam keadaan sekarang.
"konsepsi materialis tentang sejarah dimulai dari proposisi tentang produksi yakni alat-alat yang menopang kehidupan manusia dan produksi sesudahnya iaitu pertukaran barang yang diproduksi merupakan dasar dari seluruh struktur sosial ; dasar kemunculan sejarah dalam masyrakat terbagi dalam kelas-kelas, dasar di mana organisasi terbegantung pada yang diproduksi, bagaiman barang itu diproduksi dan ditukarkan.
Menurut cara pandang inipenyebab akhir dari seluruh perubahan sosial dan revousi politik tidak terletak pada otak manusia, bukan juga pada pengamatan yang jernih atas kebenaran dan keadilan abadi, tetapi dalam corak perubahan produksi dan pertukaran.
bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tapi keberadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya " - dipetik dari kata pengantar Coen Husain Pontoh.
Oh, mungkin inilah sebabnya kita taksub mengikuti sistem, mentaati majikan kapital dan berkiblatkan materialisme, kerana itulah sebenarnya dunia yang kita hunikan sekarang.
Padanlah kita tak peduli pun apa yang dah terjadi, kita lebih pentingkan jenama tudung yang kita pakai, skim insurans/simpanan di hari tua kerana takutkan masa depan yang dipegang kapital di akhirnya hidup yang terlalu sibuk ini ini kita hiburkan dengan hiburan Gegar Vaganza dan juga menikmati peha dan pinggul Kim Kardhasian di kaca tv.
Ya, tulisan kali ni berat, panjang dan paling penting - hari ni kan hari Sabtu?
Nanti adalah yang merungut " kamon brader, chill lah hari ni kan kita cuti, kita letak sebelah dulu cerita ni " atau " hang ni semua benda nak marah" atau "alah, kita cerita hal nak beraya kat mana hari ni, boleh tak ?"
Tak apalah. Aku tahu bagi kamu semua ini kan takdir tuhan.
Jadi tak mengapalah kalau nak panggil kamu mat/minah takdir.
Aku nak sambung dengar lagu Papua Tanah Perjanjian,
"Tibalah waktunya, aku bersuara/
Untuk saudaraku, suara pembebasan/
Tangisan kan berakhir, harapan kan terbit/
Seperti pelangi, di kaki bukit/
Matahari timur/
Milik kita saudaraku"
-Ras Muhammad, Gled Fredly
Tiada ulasan:
Catat Ulasan
Jangan mesej gua nak pinjam duit pulak